Minggu, 20 Mei 2012

Balai pustaka


Kesusastraan Indonesia modern tetap dianggap baru muncul setelah Perang Dunia I berakhir dengan berdirinya Balai Pustaka pada tahun 1917. Balai Pustaka nama populer dari Kantor Bacaan Rakyat (Kantoor voor de Volkslectuur) yang sebelumnya bernama Komisi Bacaan Rakyat (Commisie voor de Inlandsche School en Volkslectuur) yang didirikan pada tahun 1908.

Awalnya Balai Pustaka menerbitkan buku-buku cerita rakyat berbahasa daerah, kemudian buku-buku terjemahan atau saduran cerita-cerita kepahlawanan orang Belanda dan cerita-cerita klasik Eropa, baru kemudian buku-buku karangan baru. Tahun 1914 terbitlah roman pertama dalam bahasa Sunda Baruang Ka Nu Ngarora (Ratjun Bagi Paramuda) karangan D.K. Ardiwinata. 

Tahun 1918 terbitlah Tjerita Si Djamin dan Si Djohan karangan Merari Siregar. Tjerita Si Djamin dan Si Djohan yang disebut sebagai roman pertama dalam sastra Indonesia, sebetulnya disadur Merari Siregar dari Jan Smees karangan J. van Maurik. Oleh T. J. Lekkerkerker dikatakannya disadur dari novel Oliver Twist, karangan Charles Dickens. Baru pada tahun 1920 terbit roman asli pertama sastra Indonesia berjudul Azab dan Sengsara Seorang Anak Gadis karangan Merari Siregar juga.

Balai Pustaka memang berhasil mendorong kegiatan menulis di kalangan orang Indonesia. Untuk dapat diterbitkan di Balai Pustaka, tulisan itu mereka saring. Ini dapat dimaklumi. Pendirian Balai Pustaka mempunyai latar belakang politis, untuk mengarahkan bacaan rakyat dan menyaingi buku-buku terbitan swasta atau partikulir. Mereka makin lama makin banyak tersebar dalam masyarakat. Buku-buku itu sebagian besar membangitkan rasa nasionalisme. 

Tentu saja hal ini berbahaya bagi kelangsungan hidup penjajahan Belanda. Karena itu, syarat utama yang diterapkan oleh Balai Pustaka, karangan tidak boleh menyinggung-nyinggung soal politik. Karangan-karangan itu harus bebas dari nada menghasut. Buku-buku terbitan non-Balai Pustaka, yang sifat dan isinya menghasut rakyat mereka sebut dengan bacaan liar.

Roman-roman yang tidak bernada menghasut dan lebih bersifat hiburan, menurut Ajip Rosidi dalam bukunya Ichtisar Sedjarah Sastra Indonesia (1969), banyak ditulis dan diterbitkan para pengarang Cina. Mereka menulis dalam bahasa Melayu yang dikenal dengan bahasa Melayu-Cina.

Di Indonesia sastra Melayu-Cina tumbuh dan berkembang sebelum muncul sastra Indonesia modern akhir abad ke-19. Nio Joe Lan menyebutnya dengan sastra Indonesia Tionghoa. Menurut Jakob Sumardjo dalam bukunya Dari Kasanah Sastra Dunia (1985), jenis sastra ini diawali dengan terjemahan-terjemahan.

Pada kurun awal perkembangannya, terbit karya-karya terjemahan sastra Cina dan Eropa yang dikerjakan oleh Lie Kim Hok, antara lain: Kapten Flamberge setebal 560 halaman, Kawanan Bangsat setebal 800 halaman, Pembalasan Baccarat setebal 960 halaman, Rocambole Binasa, dan Genevieve de Vadans setebal 1.250 halaman. Demikian tebalnya buku-bukuitu lantaran diterbitkan secara serial. Ada yang sampai empat puluh jilid. Setelah masa itu, masih dari Jakob Sumardjo, barulah berkembang karya Melayu Cina asli sampai akhir tahun 1942.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar